Mengenal Imam Nawawi

/

Imam Nawawi memiliki nama lengkap Yahya bin Syaraf bin Muriy bin Hasan bin
Husain bin Muhammad bin Jum’ah bin Hizam Muhyiddin an-Nawawi ad-Dimasygi as-
Syafi’i al-Asy’ari. Beliau adalah seorang Imam yang wara’ dan zuhud, al-Hafiz (hadis), ahli
fikih dan hadis, bermazhab asy-Syafi’i dan ahlu sunah wal jama’ah.

Imam Nawawi lahir bulan Muharram tahun 631 H di Desa Nawa, sebuah kampung di
Damaskus, Suriah dan wafat malam Rabu 24 Rajab S676 H. Beliau dididik oleh ayahnya
yang terkenal dengan kesalehan dan ketakwaan. Beliau mulai belajar di katatib (tempat
belajar baca tulis untuk anak-anak) dan hafal Al-Quran sebelum menginjak usia baligh.
Kemudian pada tahun 649 H, saat berusia 18 tahun, beliau memulai perjalanan
menuntut ilmu ke Damaskus, menghadiri majelis-majelis ilmu yang diadakan ulama
kota tersebut. Beliau menetap di madrasah ar-Rawahiyyah, dekat al-Jami’ al-Umawi.

Beliau mendapatkan gelar Muhyiddiin, yang berarti โ€œsang penghidup agama”,
karena beliau benar-benar mencurahkan hidupnya untuk belajar, menulis, dan
mengajarkan ilmu agama. Namun, beliau menyampaikan, “Aku tidak ikhlas atas orang
yang memberikan gelar Muhyiddiin kepadaku”. Para ulama mengartikan pernyataan
tersebut sebagai bentuk ketawadhu’an Imam Nawawi.

GURU, MURID, DAN KARYANYA

Beliau belajar ilmu fikih kepada Abu Ibrahim Ishaq bin Ahmad al-Mahgribi, Imam
Abu Muhammad Abdurrahman bin Nuh (mufti Damaskus), dan Imam Abu Hasan Salar
bin Hasan. Adapun ilmu hadis belajar kepada Imam ‘Imaduddin Abu al-Fadhail Abdul
Karim bin Jamaludin, Syekh Syarafuddin Abdul Aziz bin Muhammad al-Anshari, Syekh
Abdul Baqa’ an-Nabulisi, Ibnu al-Burhan Abu Ishak al-Wasithi, Imam al-Hafizh Dhiyauddin
Abu Ishak Ibrahim al-Muradi, Imam Zainuddin Abul Abbas Ahmad, Imam Taqiyuddin
Abu Muhammad Isma’il at-Tunukhi, Imam Ibnu al-Habisyi, Imam Syamsuddin Abu al-
Faraj al-Maqdisi al-Hambali. Belajar usul fikih kepada Al-Qadhi Abu al-Fath Umar bin
Bindar bin Umar at-Taflisi asy-Syafi’i, dan masih banyak guru di bidang lainnya.

Adapun murid beliau, diantaranya Sulaiman bin Hilal al-Ja’fari, Ahmad Ibnu Farah
al-Isybili, Muhammad bin Ibrahim bin Sa’dullah bin Jama’ah, โ€œAla’uddin ‘Ali Ibnu Ibrahim
atau Ibnu al-‘Aththar, yang selalu menemaninya dan dikenal Mukhtashar an-Nawawi
(Nawawi junior), Syamsuddin bin an-Naqib, dan Syamsuddin bin Ja’wan dan lainnya.

Karya beliau dalam ilmu hadis antara lain al-Minhaaj lisyarhi Shahih Muslim bin
Hajjaj, Riyaadh ash-Shaalihiin, al-Arba’iin, Khulashah al-Ahkam min Muhimmaat as-
Sunan wa Qawaa’id al-Islaam, Syarh al-Jaami’ ash-Shahiih lil-Bukhaarii, Syarah Sunan
Abi Daud, al-Adzkaar, al-Irsyaad, dan at-Taqriib. Karya ilmu fikih, Raudhah ath-
Thaalibiin, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, al-Idhaah, dan At-Tahqiiq. Adapun disiplin
ilmu yang lainnya, Adaab Flamalah al-Quran, Bustaan al-‘Aarifiin, Tahdziib al-Asma’
wal-Lughaat, Thabaqaat al-Fugahaa, dan Tahrirut Tanbih.

(Majmu’ Syarif al-Adzkar halaman v)

 

Categories:

Tags:


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *